Menakar Keberadaan Komunitas
Posted by mhfadjar on December 27, 2009
Familiar di telinga kita iklan “Kalau nggak ada noda ya ngga ada kreatifitas!”. Sebuah slogan yang menunjukan makna karakter identitas. Identik dengan perjuangan alami manusia untuk bisa eksis di dunia ini. Hal yang membebaskan jiwa individu (soul spirit) dan perjuangan dalam belitan kehidupan mapan (baca: materialisme). Manusia punya “selera yang tak bisa diperdebatkan” (de gustibus non est disputanduni), yang secara naluriah mencermati perkembangan zaman. Sebagai bentuk menolak kemapanan yang memperoleh justifikasi dan selera yang salah (baca: pemaksaan tren komoditas/ gaya hidup).
Tetapi selayaknya Homo societas, yang hidup untuk berkumpul bersama, terikat pada ikatan-ikatan bersilang (Aku-Kamu-Mereka). Dimaksudkan untuk mendapatkan sesuatu – tujuan yang akan dicapai. Dan kalau melihat makna vitalitas, perjuangan, élan vital biasa merujuk pada satu identitas: anak muda (baik fisik, karakteristik hidup maupun ide-idenya/ weltanschauung). Yang sering berserikat untuk menyebarkan paham identitas masing-masing. Sesuai pandangan, nilai, semangat, visi dan misi perkumpulannya.
Tren yang berkembang, mereka biasanya disebut sebagai komunitas. Sebagai ruang untuk ber-aspirasi dan ber-ekspresi dari kepenatan kehidupan sehari-hari. Sang antropolog Victor Turner menyatakan komunitas bukan sekedar energi instinctual atau perasaan baik di antara teman-teman, tetapi bahwa komunitas itu sendiri secara esensial manusiawi, dan cara manusia berada di dunia (mode-of-being-in-the-world). Jadi, komunitas menyangkut kesadaran dan kehendak.
Ada dua penggunaan komunitas. Pertama, sebagai komunitas-liminal yang bercirikan: tak terbedakan, anti-struktur, spontan, non-rasional, langsung, eksistensial dan bersifat (I[Aku]-Thou[Kamu]). Hal ini merujuk pada keadaan betwixt-and-between, “tidak di sana juga tidak di sini”. Komunitas yang menunjuk pada hubungan anti-struktur yang berbeda dengan hubungan struktur sosial. Karena dalam struktur sosial terjadi pembagian peran, perbedaan kelas: kalangan atas – bawah, the have – the have no, pokoknya penuh dengan perbedaan-perbedaan yang mencolok. Komunitas dirasakan dengan perasaan yang menyenangkan, dalam hal ini kita bisa memandang sistem – pengambilan keputusan, pemimpin-bawahan dan sebagainya – takkan terjadi gesekan.
Hal ini diterapkan pula pada kehidupan keseharian seperti sikap tidak memiliki harta, tiadanya status dan tingkat, kerendahan hati, ketaatan total, keheningan, kesederhanaan dan menerima sakit. Dan sesuatu yang berada di luar aturan sosial dan ikatan status seperti yang dilakukan generasi Hippi ataupun counter culture (komunitas gaya hidup) juga bisa disebut sebagai manifestasi komunitas ini.
Kedua, komunitas dilihat sebagai jaringan sosial dan kapasitas bersama untuk mendorong tindakan (perjuangan) individual maupun kolektif dalam menghadapi berbagai persoalan. Bercirikan: ikatan lokalitas, hubungan emosional, keterlibatan sosial, kohesi sosial dan kepentingan bersama. Perlu keterlibatan semua orang (berpartisipasi) dalam mengelola serta menganggung resiko (bertanggung jawab). Karena dengan sikap ini dapat menjadi modal sosial – nilai bersama untuk bisa terjalin kerjasama yang baik, yakni adanya trust-kepercayaan, dengan saling percaya terhadap sesama dalam berbagai hal. Dan resiprocal-bersifat timbal balik, dengan saling memberi, menerima, membantu dan lain-lain.
Komunitas tersebut, masa kini identik dengan komunitas-komunitas indie ataupun yang sejenis. Terutama gaya hidupnya anak muda yang ingin meninggalkan imejnya: timpangnya harapan, lepas tanggungjawab, ke-Amerikaan/ ke-Baratan dll, tetapi lebih pada penamaan anak muda itu sendiri yang tidak mau diorganisasikan (baca: sengaja dilabelkan dengan tren pasar). Meskipun dinyatakan audiens/konsumen (baca: anak-anak muda) selalu bersikap aktif untuk memaknai makna dari kekuasaan industri budaya (Fiske: 2005), namun ia tidak menjamin adanya penentangan terhadap kekuasaan hegemonik. Tetapi sebagian besar hasilnya adalah “perlawanan dan penolakan”. Dan mereka menganggap ini sebagai solusi terhadap struktur kekuasaan yang menghimpit kebebasannya.
Komunitas ini mempunyai maksud tertentu untuk memperjuangkan haknya asasinya melalui berbagai media (misal: penampilan fisik, simbol-simbol maupun metafora yang terkait dengan arus tanda). Baik pe-nama-an dan pencitraan identitas komunitas yang berkonotasi negatif maupun positif. Meski bukan untuk menyederhanakan keragaman, sekedar untuk menyebutkan, diantaranya: komunitas hooligan sepakbola, geng motor, geng sudut jalan, komunitas Punk, aliran rock-Emo, Skinhead, aliran musik cadas! dengan gaya-nya yang eksentrik – nyeleneh – berbeda dari biasanya. Lihat bagaimana pakaian, rekaman, potongan rambut, gaya tari dan pengetahuan yang memberikan status dan kekuasaan pada orang muda. Ataupun yang berkonotasi positif: komunitas for New Media Art&Design, graffiti, dan berbagai komunitas sebagai “alternative version” – mengutip istilah Common Room – sebagai ruang pendidikan yang membebaskan, jembatan komunikasi bagi bermacam orang dengan berbagai macam latarbelakang budaya yang berbeda, dan dengan berbagai taktik simbolisasi serta atribut perlawananya.
Stereotif masyarakat pada umumnya mengasosiasikan mereka dengan kejahatan, kekerasan atau penyimpangan. Terlepas hal itu fakta atau tidak tetapi memang seperti itulah model komunitas indie yang seharusnya menyenangkan, independen, autentik, minoritas dan tentunya menghantam yang komersial, palsu, mayoritas, dan mainstrean (Barker, 2007). Dalam istilah lain perlawanan subordinasi pada hegemoni; kelas pekerja pada kelas berkuasa.
Namun diatas semua itu, sejauh mana keberhasilan komunitas-komunitas menjalankan berbagai bentuk perlawanan dan penolakan! Serta nilai yang menyertainya!, bukanlah tanpa standar aturan main. ‘Perlawanan benar-benar soal nilai’; identifikasi nilai yang kita perjuangkan dan identifikasi nilai yang diyakini dalam perlawanan. Dengan kata lain perlawanan bukanlah kandungan dari suatu tindakan tetapi kategori penilaian tentang tindakan. Dan makna “bebas” yang tidak berkonotasi negatif – menuju pembebasan yang sarat spirit, dan semangat untuk menciptakan perubahan.