Menghilangkan Prasangka dan Menciptakan Komunikasi yang Mindfullness
Posted by mhfadjar on July 15, 2009
Sebagaimana telah kita ketahui dari tulisan sebelumnya, sumber utama prasangka terletak pada emosi yang negatif. Sebagai cerminan dari bentuk afeksi (perasaan) seseorang, prasangka lambat laun akan terbentuk dalam sikap dan perilaku seseorang. Mulai dari penampilan sikap skala kecil sampai skala berat. Pastinya, hal ini akan menggangu terciptanya kontak yang efektif dengan orang lain. Maka, komunikasi menjadi faktor lain yang harus diperhatikan oleh seseorang, supaya ketulusan dan kejujuran dalam berinteraksi menjadi nilai utama (ultimate value).
Bersandar pada Buber (dalam Rahardjo, 2005), komunikasi yang tercipta bermula pada relasi. Dalam relasi yang tulus dan berkejujuran, menempatkan orang lain sebagai subjek bukan objek semata. Artinya, menghargai orang lain selayaknya menghargai diri sendiri. Memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang diterima dan diakui sebagai pribadi yang memiliki ruang gerak untuk menjadi dirinya sendiri. Salah satu manifestasinya adalah dengan adanya pengungkapan diri yang tulus. Pengungkapan tersebut harus dilandasi kejujuran dengan membuka batas-batas pribadi untuk menciptakan keakraban, disertai kepekaan terhadap perasaan orang lain, sehingga tercipta proses umpan balik. Oleh karena itu, kesalahpahaman dan ketidakpuasan bisa diminimalisir sedini mungkin.
Namun apakah dalam komunikasi hal tersebut sudah mencukupi? Ternyata itu merupakan satu dari tiga faktor lain yang saling berkaitan. Factor-faktor tersebut diantaranya motivasi, pengetahuan dan kecakapan (Wiseman dalam Gudykunst&Mody, (ed.), 2002). Hal ini dikarenakan setiap orang melakukan interaksi (berkomunikasi) selalu dihinggapi ketidakpastian dan kecemasan, apalagi dengan orang yang belum kita kenal sama sekali. Dan prasangka (salah satu cerminannya adalah rasa cemas) termasuk pada faktor motivasi yang bersifat afektif. Ketakutan, ketidaksukaan dan kecemasan akan menciptakan motivasi negatif, dan cenderung menghindari berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan menunjuk pada aspek kognitif, kesadaran atau pemahaman tentang informasi mengenai latar sosial-budaya seseorang. Dan kecakapan merujuk pada perilaku yang sebenarnya dirasakan efektif dan pantas dalam konteks komunikasi.
Walhasil, apabila kita sudah bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa prasangka, langkah selanjutnya adalah memahami latar sosial dan kebudayaan orang tersebut (yang pasti berbeda sama sekali), disertai dengan kecakapan-kecakapan dalam menyampaikan pesan, keluwesan berperilaku, pemberian perhatian yang penuh, bersikap empati dan pemeliharaan identitas orang lain tersebut.
Akhirnya, persyaratan di atas berguna bagi kita yang menginginkan komunikasi antarbudaya yang mindful.
Like this:
This entry was posted on July 15, 2009 at 11:22 am and is filed under Social psychology. Tagged: komunikasi, mindfullness, prasangka. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.