Jangan mau dipermainkan oleh TV
Posted by mhfadjar on July 15, 2009
“Televisi berdampak kepada ketentuan dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, imajinasi sosial, dimana kita ‘mempersepsikan dunia’, ‘realitas yang dijalani orang lain’, dan secara imajiner merekonstruksi kehidupan mereka dari kehidupan kita melalui ‘dunia secara keseluruhan’ yang dapat dipahami” (Hall, 1977: 140).
Media televisi menjadi sumber segala informasi. Mulai dari berita, sinetron, gosip, lawakan, wisata kuliner, petualangan sampai program pencarian pacar pun ada. Media televisi selalu tersaji sebagai hidangan sehari-hari bagi para penonton. Bermacam-macam program televisi tersebut bisa ditonton hampir di setiap saluran TV. Karena memang copy paste suatu tayangan televisi yang sedang hits sudah menjadi kewajaran. Tetapi, ceritanya menjadi lain ketika program-program sinetron dan reality show semakin merajalela. Semakin ditonton, semakin mempermainkan perasaan para penonton. Akhirnya, terjadilah yang tabu menjadi wajar, yang tidak etis menjadi etis, dan sebaliknya. Masyarakat pun mau tidak mau harus menontonnya.
Walhasil, televisi menjadi candu masyarakat. Program-programnya pun tayang dengan kehilangan makna. Dan meninggalkan massa penonton dalam ketidakpastian. Kemudian, apa jadinya bangsa kita bila hal ini terus berlanjut?
Menonton televisi, membentuk dan dibentuk oleh berbagai identitas budaya, televisi adalah sumber bagi konstruksi identitas budaya sebagaimana penonton menjalankan identitas budaya dan kompetensi mereka untuk men-decode program dengan cara tertentu. Ketika televisi mulai mengglobal, maka tempat televisi dalam pembentukan identitas etnis dan identitas nasional semakin menunjukan arti pentingnya (Barker, 1999). Maka, tidaklah heran ketika menjalarnya kebudayaan massa/pop di Indonesia lewat televisi dengan program entertainment-entertainment (gosip, selebriti, reality show dll), membentuk kepribadian masyarakat.
Theodor Adorno mengindikasikan bahwa televisi disarati oleh muatan-muatan makna ideologis tersembunyi, yang semata-mata melalui satu cara cerita atau ikan memandang manusia. Pemirsa dalam hal ini, diundang untuk melihat satu karakter dengan cara yang sama ia melihat dirinya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya telah terjadi indoktrinasi. Menurut Baudrillard (dalam Idi Subandy Ibrahim, 1997), media massa telah menyulap individu-individu menjadi sekumpulan ‘mayoritas yang diam’. Bagaikan sebuah kekuatan sihir yang sangat dahsyat, media menjadikan massa yang diam tersebut menjadi layaknya sebuah raksasa-yang segala sesuatu (tontonan, film, informasi berita, iklan) mengalir melalui mereka; segala sesuatu menarik mereka bagaikan magnet, namun tidak ada bekas (nilai, makna luhur) apa-apa yang ditinggalkan.
Akibatnya, masih menurut Baudrillard, yang terjadi adalah sirkulasi suguhan-suguhan ektase, ke-misterian, kekerasan dan lainnya hanya menghasilkan massa yang ‘mabuk’ atau ‘kecanduan’ akan sirkulasi penampakan tontonan. Ia hanya mengembangkan hawa nafsu yang tanpa ada batasnya. Di hadapan massa yang mabuk dan kecanduan tersebut, akan kedangkalan ritual tontonan ini, penyuntikan pesan-pesan dan muatan-muatan makna (luhur) melalui media hanya upaya sia-sia, sebab makna-makna ditelan dan lenyap lebih cepat ketimbang penyuntikannya.
Menjadi sesuatu yang fatal sekali, ketika masyarakat yang belum mempunyai pemahaman makna–makna terhadap berbagai tayangan, apalagi tayangan mistis-religi, menerima hal tersebut sebagai suatu kebenaran. Meskipun adanya simbol-simbol dan pesan-pesan agama yang ditonjolkan, tetapi karena sudah menjadi aktivitas keseharian (intens dalam menonton) dan menjadi ektase, sebenarnya maknanya telah hilang sama sekali. Artinya, tekanan bukan pada penguatan muatan agamanya tetapi penguatan mistisnya agama.
Sama halnya dengan tayangan reality show, tontonan yang selalu ditunggu-tunggu para pemirsa. Akibatnya, sesuatu yang tabu dan kurang etis berubah menjadi suatu kewajaran dan sah-sah saja. Yang penting dapat cerita, informasi dan liputan yang menarik untuk ditonton. Hal ini secara mendasar telah merubah nilai-nilai budaya bangsa, yang mempunyai adat ketimuran. Secara perlahan-lahan tapi pasti, televisi mulai memperlihatkan dan menertawakan aib seseorang dengan di-expose pada khalayak publik.
Globalisasi televisi adalah suatu aspek dari logika kapitalisme yang ekspansionis dan dinamis dalam petualangannya mencari komoditas dan pasar baru. Dalam tataran global, terlihat jelas ketika pemproduksian program ini bukan atas dasar kepentingan penyadaran, tetapi lebih kepada tarik ulurnya kekuatan produksi televisi untuk konsumsi masyarakat. Atau dengan kata lain, untuk kebutuhan pasar semata bukan penyadaran masyarakat luas.
Stephen W. Littlejohn (1996) dalam bukunya ‘Theories of Human Communication’, membagi teori komunikasi menjadi lima genre. Salah satunya teori kritik. Teori ini memberikan perhatian kepada masalah kualitas komunikasi dan kualitas kehidupan manusia. Teori ini bukan sekedar terlibat dalam kegiatan pengamatan, tetapi lebih utama adalah memberikan kritik. Sebagian besar kritiknya, ditujukan pada masalah konflik kepentingan dalam masyarakat dan terhadap kebiasaan-kebiasaan yang menggunakan komunikasi sebagai cara untuk mendominasi atau mengkooptasi.
Dalam permasalahan program televisi ini, dengan mengglobalnya akses masyarakat terhadap TV, menjadikan jendela infiltrasi media terhadap masyarakat khususnya penonton. Terjadi perebutan hegemoni kultural dan pemaknaan yang tidak ada akhirnya di masyarakat. Pada masyarakat tertentu makna-makna keagamaan dan spiritual mendapatkan posisi hegemoni, sedangkan pada masyarakat lain makna-makna komersial dan ekonomis lebih menguasai masyarakat (seperti pada masyarakat kapitalisme).
Turunannya, teori ini adalah teori praksis yang dikembangkan oleh Pierre Bourdie (1977), dimana komunikasi bukan semata-mata merupakan sesuatu yang bersifat linier dan otonom, melainkan merupakan sesuatu yang dikonstruksi, dibentuk, diproduksi bersama-sama, atau merupakan konstruksi sosial yang berkaitan erat dengan kepentingan maupun kekuasaan.
Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita untuk memilih tayangan-tayangan yang berkualitas dan bermutu. Apabila tidak berkehendak menonton atau tidak ada satupun tayangan TV yang mendidik, matikan saja! Just turn off your television!