Mhfadjar's Blog

Just another WordPress.com weblog

Introspeksi Kebudayabangsaan Kita

Posted by mhfadjar on December 27, 2009

Bangsa yang berdikari, bangsa yang bermartabat, bangsa yang bahagia-sejahtera dan berbagai sebutan lainnya telah terlontarkan oleh kalangan yang merindukan Indonesia pulih dari keterpurukan, akhirnya hanya gigit jari. Semua orang sepakat bahwa yang menjadi biang keladi adalah komitmen para pemimpin elit. Harapan awal untuk jadi welfare state, yang memprioritaskan pembangunan kesejahteraan sosial, malahan sebaliknya, bangsa dan negara kita menuju failed state.

Perkembangan kontemporer membuat kita terhenyak, seakan-akan kita menyesali akan keanekaragaman budaya kita. Bangsa ini berjalan mundur, karena hanya mengagungkan sifat-sifat primordialitas masing-masing, dengan kata lain – meminjam istilah Covey – bergerak menuju uniform and sameness bukan pada unity dan oneness. Baik dalam ranah sistem kenegaraannya (birokratis) maupun kulturalnya (masyarakat). Sikap acuh dan keengganan para pemimpin elit bangsa mendukung kelas bawah seakan wajar dan sah-sah saja, sehingga menimbulkan pertanyaan “apa yang  membenarkan tindakan mereka dilihat dari khazanah budaya Indonesia?”.

Bangsa Indonesia yang multikultural tak bisa dipungkiri, terjadinya berbagai konflik baik vertikal maupun horizontal merupakan akumulasi dari warisan sejarah bangsa. Banyak asumsi yang membenarkan bahwa perbedaan merupakan rahmat (be different is a gift), tapi dalam kenyataannya terjadi pertarungan yang saling membinasakan (lupus est homo homini). Akibatnya menciptakan jurang-kesenjangan bagi sesama anak bangsa.

Selintas kita coba elaborasi gentingnya masalah ini. Pertama, sisi internal, “apa yang terlewatkan dari warisan budaya ini?”. Pangkal segala tindak-tanduk manusia berasal dari unsur terkecil, yaitu individu. Menurut Immanuel Kant (1724-1804) otonomi individual menyaratkan bahwa setiap orang dengan nalarnya dapat menemukan perbuatan-perbuatan apa yang bermoral dan perbuatan-perbuatan apa yang tidak bermoral. Terwujud dalam nilai-nilai gotong royong, tepo saliro, ramah tamah dll. Itulah Indonesia, dulu! Faktanya, nilai-nilai agung bangsa pra dan pasca reformasi telah hilang ditelan pertarungan kekuasaan elit. Disinilah potret kusam bangsa. Penguasa sekarang pragmatis dalam memandang semua permasalahan. Alhasil, kasus korupsi semakin merajalela dari tingkat legislatif pusat sampai daerah, tak tanggung-tanggung dalam satu bulan saja pasti ada yang diciduk oleh KPK. Hal ini logis, karena tindak korupsi ini berjamaah. Ketika pelaku utamanya tertangkap yang lainnya pun pasti terungkap. Ironisnya, permasalahan masyarakat terabaikan. Tetap tidak beranjak dari kemiskinan. Puncaknya, terjadi prasangka negatif yang massif (massive negative stereotive) masyarakat Indonesia.

Kedua, Implikasi poin pertama di atas menimbulkan asumsi-asumsi yang salah di masyarakat, diantaranya perbedaan dilihat sebagai ancaman yang harus diwaspadai. Indonesia yang ramah tamah, aman dan tentram dan selalu terbuka terhadap kebudayaan yang lain, seakan tak terlihat lagi dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan malahan menunjukkan kerakusan, anarkis, wong cilik jadi wong licik, budaya permisif berkembang sampai ke desa-desa, tanpa tedeng eling-eling budaya luar malah mendominasi kehidupan bangsa. “Menjadi bangsa yang setengah hati mencintai budaya aslinya”. Inilah yang disebut liminalitas (Winangun: 1990), istilah antropologi yang menunjukkan ambiguity identitas budaya bangsa, tanggung akan budaya asli dan setengah hati menerima budaya luar. Pertanyaannya sekarang “mau kemanakah  negeri ini akan dibawa?”

Manusia modern yang insatiable mentality! - selalu merasa kekurangan. Cerminan perilaku yang mementingkan material di atas segala-galanya, sehingga timbullah perilaku nrabas. Mentalitas jalan pintas yang menghindari kerja keras, disiplin tinggi, dan rasa bertanggung jawab. Tanpa perasaan bersalah dengan melanggar etika dan aturan yang ada. (Sairin: 2005). Hal inilah yang menjadi sebab secara langsung maupun tak langsung cerminan kualitas (budaya) bangsanya. Gentingnya masalah ini akan mendorong masyarakat akan berperilaku yang sama. Para wakil rakyaknya saja korupsi masa rakyat sendiri tidak boleh!

Sebenarnya kegagalan tersebut di atas akan berbalik apabila bangsa ini lebih mengedepankan sikap elegan dalam berpolitik yang dilandasi oleh nilai-nilai budaya bangsa. Sehingga sistem politik tidak men-subordinasikan sistem sosial-budaya yang terjadi sekarang ini. Dengan kata lain, wilayah profan tidak merusak wilayah kudus. Karena faktor elit  (eksekutif dan legislatif) merupakan cerminan dan preseden bagi masyarakatnya. Dan masyarakat merupakan faktor lain yang unsignifican karena tidak mempunyai otoritas apapun.

Sehingga agenda mendesaknya adalah mencari figur pemimpin yang menampilkan budaya politik elit yang elegan dan kebijakan yang pro rakyat kecil. Yang PR utamanya menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat yang sudah hilang. Karena kepercayaan menumbuhkan kerelaan dalam segala hal. Berawal dari sini, berharap bisa menjadi energi bangsa yang bersifat outward looking dan positive externality (Hasbullah: 2006). Meskipun memerlukan waktu tapi inilah proses yang harus dilalui kalau ingin meyakinkan dan membangun budaya bangsa ini. Kepercayan seribu kali lebih baik daripada tindakan menurut seleranya sendiri tanpa kepercayaan. (Freire, 1972).

Akhirnya, selayaknyalah kita berintrospeksi diri dan mengaudit langkah untuk berani menciptakan wajah baru Indonesia sebagai high trust state dengan bangga!. Apabila Jepang bangga dengan  prinsip dan nilai-nilai kebangsaannya, serta populer di dunia internasional. Sekaranglah bagian kita!

Posted in Socio-cultural | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Menakar Keberadaan Komunitas

Posted by mhfadjar on December 27, 2009

Familiar di telinga kita iklan “Kalau nggak ada noda ya ngga ada kreatifitas!”.  Sebuah slogan yang menunjukan makna karakter identitas. Identik dengan perjuangan alami manusia untuk bisa eksis di dunia ini. Hal yang membebaskan  jiwa individu (soul spirit) dan perjuangan dalam belitan kehidupan mapan (baca: materialisme). Manusia punya “selera yang tak bisa diperdebatkan” (de gustibus non est disputanduni), yang secara naluriah mencermati perkembangan zaman. Sebagai bentuk menolak kemapanan yang memperoleh justifikasi dan selera yang salah  (baca: pemaksaan tren komoditas/ gaya hidup).

Tetapi selayaknya Homo societas, yang hidup untuk berkumpul bersama, terikat pada ikatan-ikatan bersilang (Aku-Kamu-Mereka). Dimaksudkan untuk mendapatkan sesuatu – tujuan yang akan dicapai. Dan kalau melihat makna vitalitas, perjuangan, élan vital biasa merujuk pada satu identitas: anak muda (baik fisik, karakteristik hidup maupun ide-idenya/ weltanschauung). Yang sering berserikat untuk menyebarkan paham identitas masing-masing. Sesuai pandangan, nilai, semangat, visi dan misi perkumpulannya.

Tren yang berkembang, mereka biasanya disebut sebagai komunitas. Sebagai ruang untuk ber-aspirasi dan ber-ekspresi dari kepenatan kehidupan sehari-hari. Sang antropolog Victor Turner menyatakan komunitas bukan sekedar energi instinctual atau perasaan baik di antara teman-teman, tetapi bahwa komunitas itu sendiri secara esensial manusiawi, dan cara manusia berada di dunia (mode-of-being-in-the-world). Jadi, komunitas menyangkut kesadaran dan kehendak.

Ada dua penggunaan komunitas. Pertama, sebagai komunitas-liminal yang bercirikan: tak terbedakan, anti-struktur, spontan, non-rasional, langsung, eksistensial dan bersifat (I[Aku]-Thou[Kamu]). Hal ini merujuk pada keadaan betwixt-and-between, “tidak di sana juga tidak di sini”. Komunitas yang menunjuk pada hubungan anti-struktur yang berbeda dengan hubungan struktur sosial. Karena dalam struktur sosial terjadi pembagian peran, perbedaan kelas: kalangan atas – bawah,  the havethe have no, pokoknya penuh dengan perbedaan-perbedaan yang mencolok. Komunitas dirasakan dengan perasaan yang menyenangkan, dalam hal ini kita bisa memandang sistem – pengambilan keputusan, pemimpin-bawahan dan sebagainya – takkan terjadi gesekan.

Hal ini diterapkan pula pada kehidupan keseharian seperti sikap tidak memiliki harta, tiadanya status dan tingkat, kerendahan hati, ketaatan total, keheningan, kesederhanaan dan menerima sakit. Dan sesuatu yang  berada di  luar aturan sosial dan ikatan status seperti yang dilakukan generasi Hippi ataupun counter culture (komunitas gaya hidup) juga bisa disebut sebagai manifestasi komunitas ini.

Kedua, komunitas dilihat sebagai jaringan sosial dan kapasitas bersama untuk mendorong tindakan (perjuangan) individual maupun kolektif dalam menghadapi berbagai persoalan. Bercirikan: ikatan lokalitas, hubungan emosional, keterlibatan sosial, kohesi sosial dan kepentingan bersama. Perlu keterlibatan semua orang (berpartisipasi) dalam mengelola serta menganggung resiko (bertanggung jawab). Karena dengan sikap ini dapat menjadi modal sosial – nilai bersama untuk bisa terjalin kerjasama yang baik, yakni adanya trust-kepercayaan, dengan saling percaya terhadap sesama dalam berbagai hal. Dan resiprocal-bersifat timbal balik, dengan saling memberi, menerima, membantu dan lain-lain.

Komunitas tersebut, masa kini identik dengan komunitas-komunitas indie ataupun yang sejenis. Terutama gaya hidupnya anak muda yang ingin meninggalkan imejnya: timpangnya harapan, lepas tanggungjawab, ke-Amerikaan/ ke-Baratan dll, tetapi lebih pada penamaan anak muda itu sendiri yang tidak mau diorganisasikan (baca: sengaja dilabelkan dengan tren pasar). Meskipun dinyatakan audiens/konsumen (baca: anak-anak muda) selalu bersikap aktif untuk memaknai makna dari kekuasaan industri budaya (Fiske: 2005), namun ia tidak menjamin adanya penentangan terhadap kekuasaan hegemonik. Tetapi sebagian besar hasilnya adalah “perlawanan dan penolakan”. Dan mereka menganggap ini sebagai solusi terhadap struktur kekuasaan yang menghimpit kebebasannya.

Komunitas ini mempunyai maksud tertentu untuk memperjuangkan haknya asasinya melalui berbagai media (misal: penampilan fisik, simbol-simbol maupun metafora yang terkait dengan arus tanda). Baik pe-nama-an dan pencitraan identitas komunitas yang berkonotasi negatif maupun positif. Meski bukan untuk menyederhanakan keragaman, sekedar untuk menyebutkan, diantaranya: komunitas hooligan sepakbola, geng motor, geng sudut jalan, komunitas Punk, aliran rock-Emo, Skinhead, aliran musik cadas! dengan gaya-nya yang eksentrik – nyeleneh – berbeda dari biasanya. Lihat bagaimana pakaian, rekaman, potongan rambut, gaya tari dan pengetahuan yang memberikan status dan kekuasaan pada orang muda. Ataupun yang berkonotasi positif: komunitas for New Media Art&Design, graffiti, dan berbagai komunitas sebagai “alternative version” – mengutip istilah Common Room – sebagai ruang pendidikan yang membebaskan, jembatan komunikasi bagi bermacam orang dengan berbagai macam latarbelakang budaya yang berbeda, dan dengan berbagai taktik simbolisasi serta atribut perlawananya.

Stereotif masyarakat pada umumnya mengasosiasikan mereka dengan kejahatan, kekerasan atau penyimpangan. Terlepas hal itu fakta atau tidak tetapi memang seperti itulah model komunitas indie yang seharusnya menyenangkan, independen, autentik, minoritas dan tentunya menghantam yang komersial, palsu, mayoritas, dan mainstrean (Barker, 2007). Dalam istilah lain perlawanan subordinasi pada hegemoni; kelas pekerja pada kelas berkuasa.

Namun diatas semua itu, sejauh mana keberhasilan komunitas-komunitas menjalankan berbagai bentuk perlawanan dan penolakan! Serta nilai yang menyertainya!, bukanlah tanpa standar aturan main. ‘Perlawanan benar-benar soal nilai’; identifikasi nilai yang kita perjuangkan dan identifikasi nilai yang diyakini dalam perlawanan. Dengan kata lain perlawanan bukanlah kandungan dari suatu tindakan tetapi kategori penilaian tentang tindakan. Dan makna “bebas” yang tidak berkonotasi negatif – menuju pembebasan yang sarat spirit, dan semangat untuk menciptakan perubahan.

Posted in Cultural studies and community | Tagged: , , | Leave a Comment »

Jangan mau dipermainkan oleh TV

Posted by mhfadjar on July 15, 2009

“Televisi berdampak kepada ketentuan dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, imajinasi sosial, dimana kita ‘mempersepsikan dunia’, ‘realitas yang dijalani orang lain’, dan secara imajiner merekonstruksi kehidupan mereka dari kehidupan kita melalui ‘dunia secara keseluruhan’ yang dapat dipahami” (Hall, 1977: 140).

Media televisi menjadi sumber segala informasi. Mulai dari berita, sinetron, gosip, lawakan, wisata kuliner, petualangan sampai program pencarian pacar pun ada. Media televisi selalu tersaji sebagai hidangan sehari-hari bagi para penonton. Bermacam-macam program televisi tersebut bisa ditonton hampir di setiap saluran TV. Karena memang copy paste suatu tayangan televisi yang sedang hits sudah menjadi kewajaran. Tetapi, ceritanya menjadi lain ketika program-program sinetron dan reality show semakin merajalela. Semakin ditonton, semakin mempermainkan perasaan para penonton. Akhirnya, terjadilah yang tabu menjadi wajar, yang tidak etis menjadi etis, dan sebaliknya. Masyarakat pun mau tidak mau harus menontonnya.

Walhasil, televisi menjadi candu masyarakat. Program-programnya pun tayang dengan kehilangan makna. Dan meninggalkan massa penonton dalam ketidakpastian. Kemudian, apa jadinya bangsa kita bila hal ini terus berlanjut?

Menonton televisi, membentuk dan dibentuk oleh berbagai identitas budaya, televisi adalah sumber bagi konstruksi identitas budaya sebagaimana penonton menjalankan identitas budaya dan kompetensi mereka untuk men-decode program dengan cara tertentu. Ketika televisi mulai mengglobal, maka tempat televisi dalam pembentukan identitas etnis dan identitas nasional semakin menunjukan arti pentingnya (Barker, 1999). Maka, tidaklah heran ketika menjalarnya kebudayaan massa/pop di Indonesia lewat televisi dengan program entertainment-entertainment (gosip, selebriti, reality show dll), membentuk kepribadian masyarakat.

Theodor Adorno mengindikasikan bahwa televisi disarati oleh muatan-muatan makna ideologis tersembunyi, yang semata-mata melalui satu cara cerita atau ikan memandang manusia. Pemirsa dalam hal ini, diundang untuk melihat satu karakter dengan cara yang sama ia melihat dirinya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya telah terjadi indoktrinasi. Menurut Baudrillard (dalam Idi Subandy Ibrahim, 1997), media massa telah menyulap individu-individu menjadi sekumpulan ‘mayoritas yang diam’. Bagaikan sebuah kekuatan sihir yang sangat dahsyat, media menjadikan massa yang diam tersebut menjadi layaknya sebuah raksasa-yang segala sesuatu (tontonan, film, informasi berita, iklan) mengalir melalui mereka; segala sesuatu menarik mereka bagaikan magnet, namun tidak ada bekas (nilai, makna luhur) apa-apa yang ditinggalkan.

Akibatnya, masih menurut Baudrillard, yang terjadi adalah sirkulasi suguhan-suguhan ektase, ke-misterian, kekerasan dan lainnya hanya menghasilkan massa yang ‘mabuk’ atau ‘kecanduan’ akan sirkulasi penampakan tontonan. Ia hanya mengembangkan hawa nafsu yang tanpa ada batasnya. Di hadapan massa yang mabuk dan kecanduan tersebut, akan kedangkalan ritual tontonan ini, penyuntikan pesan-pesan dan muatan-muatan makna (luhur) melalui media hanya upaya sia-sia, sebab makna-makna ditelan dan lenyap lebih cepat ketimbang penyuntikannya.

Menjadi sesuatu yang fatal sekali, ketika masyarakat yang belum mempunyai pemahaman makna–makna terhadap berbagai tayangan, apalagi tayangan mistis-religi, menerima hal tersebut sebagai suatu kebenaran. Meskipun adanya simbol-simbol dan pesan-pesan agama yang ditonjolkan, tetapi karena sudah menjadi aktivitas keseharian (intens dalam menonton) dan menjadi ektase, sebenarnya maknanya telah hilang sama sekali. Artinya, tekanan bukan pada penguatan muatan agamanya tetapi penguatan mistisnya agama.

Sama halnya dengan tayangan reality show, tontonan yang selalu ditunggu-tunggu para pemirsa. Akibatnya, sesuatu yang tabu dan kurang etis berubah menjadi suatu kewajaran dan sah-sah saja. Yang penting dapat cerita, informasi dan liputan yang menarik untuk ditonton. Hal ini secara mendasar telah merubah nilai-nilai budaya bangsa, yang mempunyai adat ketimuran. Secara perlahan-lahan tapi pasti, televisi mulai memperlihatkan dan menertawakan aib seseorang dengan di-expose pada khalayak publik.

Globalisasi televisi adalah suatu aspek dari logika kapitalisme yang ekspansionis dan dinamis dalam petualangannya mencari komoditas dan pasar baru. Dalam tataran global, terlihat jelas ketika pemproduksian program ini bukan atas dasar kepentingan penyadaran, tetapi lebih kepada tarik ulurnya kekuatan produksi televisi untuk konsumsi masyarakat. Atau dengan kata lain, untuk kebutuhan pasar semata bukan penyadaran masyarakat luas.

Stephen W. Littlejohn (1996) dalam bukunya ‘Theories of Human Communication’, membagi teori komunikasi menjadi lima genre. Salah satunya teori kritik. Teori ini memberikan perhatian kepada masalah kualitas komunikasi dan kualitas kehidupan manusia. Teori ini bukan sekedar terlibat dalam kegiatan pengamatan, tetapi lebih utama adalah memberikan kritik. Sebagian besar kritiknya, ditujukan pada masalah konflik kepentingan dalam masyarakat dan terhadap kebiasaan-kebiasaan yang menggunakan komunikasi sebagai cara untuk mendominasi atau mengkooptasi.

Dalam permasalahan program televisi ini, dengan mengglobalnya akses masyarakat terhadap TV, menjadikan jendela infiltrasi media terhadap masyarakat khususnya penonton. Terjadi perebutan hegemoni kultural dan pemaknaan yang tidak ada akhirnya di masyarakat. Pada masyarakat tertentu makna-makna keagamaan dan spiritual mendapatkan posisi hegemoni, sedangkan pada masyarakat lain makna-makna komersial dan ekonomis lebih menguasai masyarakat (seperti pada masyarakat kapitalisme).

Turunannya, teori ini adalah teori praksis yang dikembangkan oleh Pierre Bourdie (1977), dimana komunikasi bukan semata-mata merupakan sesuatu yang bersifat linier dan otonom, melainkan merupakan sesuatu yang dikonstruksi, dibentuk, diproduksi bersama-sama, atau merupakan konstruksi sosial yang berkaitan erat dengan kepentingan maupun kekuasaan.

Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita untuk memilih tayangan-tayangan yang berkualitas dan bermutu. Apabila tidak berkehendak menonton atau tidak ada satupun tayangan TV yang mendidik, matikan saja! Just turn off your television!

Posted in communication and mass media | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Menghilangkan Prasangka dan Menciptakan Komunikasi yang Mindfullness

Posted by mhfadjar on July 15, 2009

Sebagaimana telah kita ketahui dari tulisan sebelumnya, sumber utama prasangka terletak pada emosi yang negatif. Sebagai cerminan dari bentuk afeksi (perasaan) seseorang, prasangka lambat laun akan terbentuk dalam sikap dan perilaku seseorang. Mulai dari penampilan sikap skala kecil sampai skala berat. Pastinya, hal ini akan menggangu terciptanya kontak yang efektif dengan orang lain. Maka, komunikasi menjadi faktor lain yang harus diperhatikan oleh seseorang, supaya ketulusan dan kejujuran dalam berinteraksi menjadi nilai utama (ultimate value).

Bersandar pada Buber (dalam Rahardjo, 2005), komunikasi yang tercipta bermula pada relasi. Dalam relasi yang tulus dan berkejujuran, menempatkan orang lain sebagai subjek bukan objek semata. Artinya, menghargai orang lain selayaknya menghargai diri sendiri. Memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang diterima dan diakui sebagai pribadi yang memiliki ruang gerak untuk menjadi dirinya sendiri. Salah satu manifestasinya adalah dengan adanya pengungkapan diri yang tulus. Pengungkapan tersebut harus dilandasi kejujuran dengan membuka batas-batas pribadi untuk menciptakan keakraban, disertai kepekaan terhadap perasaan orang lain, sehingga tercipta proses umpan balik. Oleh karena itu, kesalahpahaman dan ketidakpuasan bisa diminimalisir sedini mungkin.

Namun apakah dalam komunikasi hal tersebut sudah mencukupi? Ternyata itu merupakan satu dari tiga faktor lain yang saling berkaitan. Factor-faktor tersebut diantaranya motivasi, pengetahuan dan kecakapan (Wiseman dalam Gudykunst&Mody, (ed.), 2002). Hal ini dikarenakan setiap orang melakukan interaksi (berkomunikasi) selalu dihinggapi ketidakpastian dan kecemasan, apalagi dengan orang yang belum kita kenal sama sekali. Dan prasangka (salah satu cerminannya adalah rasa cemas) termasuk pada faktor motivasi yang bersifat afektif. Ketakutan, ketidaksukaan dan kecemasan akan menciptakan motivasi negatif, dan cenderung menghindari berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan menunjuk pada aspek kognitif, kesadaran atau pemahaman tentang informasi mengenai latar sosial-budaya seseorang. Dan kecakapan merujuk pada perilaku yang sebenarnya dirasakan efektif dan pantas dalam konteks komunikasi.

Walhasil, apabila kita sudah bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa prasangka, langkah selanjutnya adalah memahami latar sosial dan kebudayaan orang tersebut (yang pasti berbeda sama sekali), disertai dengan kecakapan-kecakapan dalam menyampaikan pesan, keluwesan berperilaku, pemberian perhatian yang penuh, bersikap empati dan pemeliharaan identitas orang lain tersebut.

Akhirnya, persyaratan di atas berguna bagi kita yang menginginkan komunikasi antarbudaya yang mindful.

Posted in Social psychology | Tagged: , , | Leave a Comment »

Menghilangkan Prasangka dalam Bertindak: Berhubungan dengan Individu

Posted by mhfadjar on July 15, 2009

“Jika sesuatu tampak sulit bagi kita, jangan menganggap orang lain tidak mampu melakukannya. Sebaliknya, jika sesuatu dapat dilakukan orang lain, yakinlah bahwa kita juga mampu melakukannya!” (Marcus Aurelius Antoninus)
Wisdom word di atas mengisyaratkan pandangan positif seseorang menilai orang lain di sekitarnya, walaupun mungkin ia tidak terlalu mengenal orang tersebut. Disamping itu, juga memandang positif akan potensi diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, ini merupakan contoh sikap dasar menghargai diri sendiri dan orang lain.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak punya pilihan lain, kecuali menerima dirinya ada di lingkaran kelompok-kelompok sosial, bahkan dalam ruang lingkup sekecil apapun. Manusia tidak bisa menghidupi diri dengan kekuatannya sendiri. “Hidup dengan keegoisan pribadi tidak akan mendapatkan tempat di masyarakat”.

Dalam berhubungan dengan orang lain (interaksi), biasanya tercipta keharmonisan ataupun sebaliknya, terjadi konflik. Semua orang pasti menginginkan kenyamanan dan perasaan tenang dalam bercengkrama, tegur sapa, meskipun hanya sambutan ‘senyuman’ sepintas. Tata kehidupan saling mengisi antara diri dan lingkungannya berada. Meskipun begitu, tidak akan terhindarkan juga dari ‘gesekan’ dan ‘ketegangan’. Baik dari penonjolan sikap skala kecil (mencibir, memalingkan muka, tidak menghirauan keberadaan orang lain) sampai menjurus pada kekerasan fisik (berduel, saling melempar benda, memaki secara terang-terangan, pembunuhan, dsb). Hidupnya terancam. Resah dan gelisah. Perasannya tidak akan tenang, kecuali pada dua pilihan: ia menang dengan menyingkirkan saingannya (dari wilayah kekuasaannya) atau mengalah dengan sejuta dendam.

Setidaknya, kita pernah mendengar istilah-istilah prasangka, stereotif dan diskriminasi. Ketiga istilah tersebut merupakan segitiga piramida yang mempunyai tingkatan dan dampaknya tersendiri. Tapi apa sebenarnya makna istilah tersebut?

Prasangka adalah opini tentang sesuatu, seseorang atau suatu kelompok yang terbentuk terlalu dini, tanpa alasan yang baik atau pengetahuan atau pengalman yang cukup. Stereotif adalah gambaran yang digeneralisir dan tercipta karena prasangka terhadap suatu kelompok tertentu yang disederhanakan, sehingga memandang seluruh anggota kelompok itu memiliki sifat pembawaan tertentu (biasanya negatif). Terakhir, diskriminasi adalah perilaku (biasanya negatif) yang disebabkan oleh prasangka dan stereotif terhadap suatu kelompok atau kelompok-kelompok tertentu (Simon Fisher et al., 2001).

Poinnya adalah bahwa ketiga istilah tersebut bersumber pada ‘emosi’ (sebagai pengendali kecenderungan untuk bertindak). Dasar emosi sendiri ada yang positif maupun negatif. Nah, prasangka ini merupakan emosi yang bersifat negatif dan merusak pada pencapaian pribadi maupun keberfungsian sosial. “Hati-hati: emosi dapat menjadi pelayan yang baik, tetapi merupakan guru yang buruk” (Budi MT dkk).

Pilihan seseorang biasanya tercermin dalam pikiran positif (+) maupun negatif (-). Baik yang berasal dari sisi emosional maupun rasional. Apabila antara keduanya tidak selaras, maka akan terbentuk suatu identitas atau kepribadian seseorang.

Biasanya, teknik yang mudah adalah meminimalisir pikiran negatif dan menjadikannya energi positif. Seperti, perasaan tidak senang pada teman, tetangga ataupun untuk menghindari terjadinya konflik dengan masyarakat. Dengan mengedepanan nilai love (rasa kasih atau cinta) dan worth (rasa berarti atau berharga), maka penyelarasan kedua hubungan ini bisa dimulai dengan melunturkan emosi negatif kita, secara perlahan-lahan, kemudian prasangka dalam hati dicoba dihilangkan (setidaknya melupakannya sejenak) dan perlahan-lahan coba berikan penghargaan pada orang lain dalam bentuk ‘kepercayaan’.

Prosesnya, bisa saja memakai teknik reality theraphy maupun rational theraphy. Misalkan reality theraphy yang dipakai, maka identitas kegagalan (failure identity) yang kita sangkal dan tidak dirasakan keberadaannya perlahan-lahan coba kita sadari bahwa kita butuh orang lain untuk berbagi. Saling mengasihi, menyayangi dan membantu antar sesama adalah contoh manifestasinya. Karena sebenarnya, kita juga ingin ada orang yang menghargai akan keberadaan serta tindakan tertentu yang telah kita lakukan.

Teknik lain, rational therapy, segala hal yang akan kita lakukan, sebisanya tanyakan dahulu AMBAK-nya (“apa manfaatnya bagiku”). “Apakah berpengaruh positif dan layak untuk diteruskan atau tidak?”. Sehingga bisa memacu untuk berperilaku positif menuju diri yang LEBIH BAIK!. Hal ini disebut juga Self-talk, yakni proses percakapan diri dalam hati untuk memilih suatu tindakan. Yang berpengaruh pada emosi yang akan ditampilkan dalam tindakan seseorang. Sehingga mencerminkan seperti apakah kepribadian seseorang itu.

Poinnya, kepuasan emosi harus harus terjadi diantara kedua orang yang sedang berhubungan. Dampak yang didapat adalah peredaman emosi yang mengganggu dan pembangunan emosi yang positif. Hal ini akibat adanya dukungan dari orang lain yang bersifat ‘mengurangi beban emosi kita’. Kedua, penanaman kembali nilai-nilai baru yang disandarkan pada pilihan rasional. Pendidikan rasio untuk menerima orang lain selain diri kita sendiri, sehingga yang tercipta adalah prinsip timbal balik antara keduanya: “Berpikir selalu positif dan memiliki identitas atau kepribadian yang LEBIH BAIK”.

Akhirnya, memilih berbagai metode dan teknik-teknik tersebut, pada intinya, bahwa “manusia sendirilah yang menentukan dirinya sendiri”. Sekarang tinggal sikap kita untuk mau berubah untuk menjadi LEBIH BAIK lagi! Terima kasih.


Posted in Social psychology | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Memaknai kembali ‘emosi’

Posted by mhfadjar on July 15, 2009

Sudah menjadi rahasia umum, emosi menjadi partner setia dalam derap langkah yang kita tempuh. Tanpa adanya emosi, apalah jadinya hidup ini? Mungkin kita hanya berdampingan dengan mesin-mesin yang berjalan. “Seperti sayur kurang garam”, mungkin itulah yang akan terjadi. Hambar!

Namun, kita pun selalu diambil pusing ketika emosi sudah menguasai diri. Ketika bersedih misalnya, emosi yang tercipta kadangkala malah memperburuk keadaan. Sedih bisa jadi berkepanjangan. Sangat terlihat dari mimik muka yang tersedu-sedu, lesu, sikap yang murung dan menyendiri. Sama halnya ketika seseorang marah. Wajahnya menjadi garang, mata yang melotot tajam, tangan yang terus dikepal, dan amarah yang meledak-ledak.

Emosi sebenarnya merupakan efek yang nampak ketika seseorang terangsang oleh keadaan tertentu. Keadaan tersebut memaksa seseorang menggunakan sifat alamiahnya: sedih, marah, kecewa, cinta dan lain sebagainya. Paul Ekman menamakan sifat ini sebagai emosi dasar atau universal. Kecenderungan sifat-sifat tersebut, satu sama lain saling berkelindan, sehingga seakan-akan tercipta warna pelangi. Apabila hal ini terjadi, biasanya bersifat berkepanjangan, sehingga sulit untuk memulihkannya. Istilah lain, sifat tersebut dinamakan perasaan, yang berarti penilaian terhadap sesuatu hal. Ketika perasaan itu bercampur aduk maka terbentuklah emosi.

Lebih dalam, Titchener menilai perasaan ini memiliki beberapa ciri, pertama, dapat dilihat dari kuat atau lemahnya perasaan seperti jengkel sekali, agak jengkel, kurang jengkel dll. Kedua,dari kualitasnya seperti sedih, gembira, kecewa, takut dsb. Ketiga, lamanya menghinggapi seseorang, ada yang sebentar dan ada yang sulit hilang.

Oleh karena itu, hal tersebut mengharuskan kita untuk memahami keberadaan sisi emosional ini. Pertanyaannya adalah sudah sampai manakah emosi ini menguasai kita. Mungkin susah untuk menilainya karena tiap individu berbeda-beda. Di sisi lain, banyak orang mengidentifikasi emosi ini dengan mood (suasana hati). Tidak asing lagi kita mendengar istilah mood. Orang gampang mengucapkan “ah lagi gak mood nih” atau “orangnya moody-an sih…”. Mood adalah salah satu bentuk emosi, yang sifatnya berkepanjangan- khususnya bila kita merasa dalam kedaaan sedih atau susah. Berdasarkan ciri emosi di atas, mood bisa dikategorikan pada bagian yang terakhir.

Akan tetapi, pembicaran kita belum sampai pada penyebab umum munculnya emosi. Biasanya emosi ini terjadi ketika seseorang selalu dibayang-bayangi oleh adanya kejaran waktu: masa lalu, masa kini dan masa depan. Seseorang biasanya terlanjur bersikap meratapi masa lalu karena kesalahan-kesalahan yang pernah dibuatnya dan masa depan menjadi beban (kekuatiran) untuk dapat dijalani. Kedua, penyebab tersebut berada di luar kekuasaan kita. Misalnya, ancaman, bencana, musibah dan lain sebagainya. Akar penyebab keduanya adalah bahwa kita diselubungi oleh “ketidakpastian”. Ketidakpastian dari kejaran waktu dan hal-hal yang tidak terduga yang akan menimpa kita.

Seperti sudah disebutkan di atas, fisik seseorang tidak bisa menipu emosi yang dirasakannya. Karena sifat dari emosi ini yang menelanjangi orang tersebut. Apakah kita sedang marah, benci, kesal dan lain sebagainya, tembus pandang di mata orang lain. Tidak jadi masalah apabila teman memahami kondisi kita, tetapi tidak dengan orang lain. Orang mempunyai persepsi lain dari emosi yang tampak. Bila hal ini terjadi, secara halus kita sudah menutup tanda pesahabatan atau bahkan memulai peperangan.

Bila halnya demikian, pada dasarnya emosi bisa dimanipulasi (readily manipulated). Emosi bisa diutak-atik, setidaknya diawali dengan kepekaan terhadap pengalaman hidup kita dan orang lain. Karena dengan pengalaman tersebut, kita akan memperoleh pengalaman baru yang memungkinkan belajar lebih dalam, misalkan pengalaman pahit atau senang yang dialami sendiri ataupun orang lain. Dalam hal ini, biasanya kita diajak untuk belajar bersimpati dan berempati sebagai nilai dasar berinteraksi. Apabila berlanjut dan berulang, kita akan terlatih dalam kepekaan diri dan kepekaan terhadap orang lain. Sebenarnya, pada tahap ini kita sedang dalam proses pembelajaran diri (self learning).

Disamping itu, setidaknya pemaknaan baru terhadap nilai-nilai hidup bisa membantu kita menikmati gaya hidup baru. Pertama, berbuat dengan semaksimal mungkin terhadap tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Apakah hasilnya baik atau buruk, itu adalah ganjaran proses yang telah kita lakukan. Kedua, sikap berdamai dan berterima terhadap kenyataan diluar kemauan kita (out of reality). Mengedepankan kesederhanan dalam memandang sesuatu. Kesederhanaan yang bermakna tidak selalu memaksakan kehendak diri dan kesederhanaan dengan tidak membuat komitmen di luar kemampuan kita.

Terakhir, berhubungan dengan waktu. Kesalahan masa lalu dimaknai sebagai pelajaran, sehingga tidak terjerumus pada lobang yang sama. Dan masa depan dihadapi dengan membuat rencana yang baik agar kita bisa lebih siap menghadapi tantangan-tantangan yang akan datang. Takdir sang waktu memang tak berperasaan, namun hanya manusialah yang bisa menundukkannya.

*Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari pengalaman penulis. Emosi ini menjadi istilah yang selalu dijadikan kambing hitam ketika sesuatu berjalan tidak semestinya. Disamping itu, banyak pertanyaan mengenai istilah-istilah lain yang selalu diidentikkan dengan emosi. Tulisan ini dibuat se-sederhana mungkin dengan analisis yang sederhana pula. Karena sebenarnya banyak faktor-faktor lain yang berperan penting, dengan analisis yang pastinya berbeda pula. Walhasil, semoga bermanfaat.

Posted in Social psychology | Tagged: , , | Leave a Comment »

Hello world!

Posted by mhfadjar on July 14, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.